top of page

Apa Itu Volatilitas? Simak Penyebab, Cara Menghitung & Arti Volatilitas


Volatilitas adalah

Salah satu istilah yang penting dipelajari dalam investasi saham dan instrumen keuangan lainnya adalah volatilitas. Dengan mengetahui volatilitas, kamu bisa lebih mengetahui tingkat risiko pada suatu instrumen investasi.


Namun sebelum memahami bagaimana volatilitas dapat mendefinisikan hal tersebut, mari kita pahami terlebih dahulu apa itu volatilitas.


Apa Itu Volatilitas?

Apa Itu Volatilitas?

Secara istilah dalam pasar keuangan, volatilitas adalah indikator statistik yang mengukur variasi perubahan harga suatu instrumen investasi pada suatu periode tertentu.


Selain dengan hitungan statistik, volatilitas biasanya juga dapat diinterpretasikan melalui gambar chart. Tingkat volatilitas suatu instrumen investasi dikatakan tinggi apabila gambar perubahan harga instrumen tersebut tampak memiliki ayunan yang tinggi.


Sebaliknya, jika gambar perubahan harga sebuah instrumen tampak relatif datar, maka dapat dikatakan kalau tingkat volatilitasnya rendah. Untuk bisa lebih memahaminya, mari lihat gambar berikut:

Saham NVIDIA Volatilitas Tinggi
Sumber: Google Finance

Gambar di atas menunjukan tingkat volatilitas saham adalah cukup tinggi. Sebab, dalam 1 bulan terakhir, harga saham NVIDIA turun hingga 9,58% dari 460,18 USD per lembar menjadi 416,1 USD. Coba bandingkan dengan harga saham lainnya berikut:

Contoh Harga Saham Berkshire Hathaway Volatilitas
Sumber: Google.com

Pada saat yang sama, harga saham B Berkshire Hathaway Inc hanya naik sekitar 1,19% dari 355,93 USD per lembar menjadi 360,16 USD per lembar. Hal ini berarti bahwa volatilitas harga saham perusahaan milik Warren Buffett ini terbilang rendah.



Penyebab Terjadinya Volatilitas

Penyebab Terjadinya Volatilitas

1. Kinerja Perusahaan


Salah satu momen terjadinya volatilitas harga saham adalah ketika perusahaan penerbit saham tersebut baru menerbitkan laporan keuangannya atau akan membagikan dividen. Volatilitas bisa terjadi jika laporan keuangan terbaru perusahaan melaporkan adanya kerugian atau penambahan keuntungan.


Jika volatilitas terjadi sebelum dan setelah pembagian dividen, biasanya hal ini terjadi karena banyak investor yang mengincar dividen perusahaan tersebut, sehingga membelinya sebelum cum date tiba dan menjualnya langsung begitu dividen didapatkan. Akibatnya, harga saham tersebut naik sebelum dividen dibagikan dan langsung anjlok begitu tanggal pembagian dividen selesai. Namun, hal ini biasanya terjadi jika perusahaan membagikan dividen dalam jumlah yang besar.


2. Faktor Sektor dan Industri


Sentimen yang mengenai sebuah sektor dan industri juga bisa mempengaruhi volatilitas harga saham perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri tersebut. Misalnya, penurunan harga batubara dunia bisa mempengaruhi harga saham perusahaan-perusahaan batu bara dalam negeri. Bisa juga kebijakan pemerintah yang melarang ekspor nikel berdampak pada saham perusahaan tambang yang memiliki tambang nikel.



3. Kondisi Ekonomi


Paruh kedua tahun 2022 lalu harga saham-saham di pasar modal Indonesia serentak menurun. Hal ini tercermin dari penurunan nilai IHSG. Ini disebabkan oleh kondisi ekonomi yang diperkirakan akan mengalami krisis seiring dengan meningkatnya tingkat inflasi dan suku bunga di Amerika Serikat pasca Covid-19.


Contoh lainnya adalah tingginya volatilitas harga saham ketika awal pandemi Covid-19 dimana ketika itu nilai indeks Dow Jones sempat turun dari 29.000 USD pada pertengahan Februari 2020 menjadi 19.000 USD pada tanggal 20 Maret 2023.


4. Kondisi Sosial Politik


Investor ingin berinvestasi di negara yang aman dan tentram. Sebab dengan negara yang aman dan tentram, bisnis dapat berjalan dengan lancar tanpa gangguan. Maka dari itu, jangan heran jika ketika kondisi sosial politik sedang kacau, maka kondisi pasar modal bisa ikut kacau dan tingkat volatilitas akan lebih tinggi, sebab akan ada banyak investor yang menarik dana investasinya dari pasar modal negara tersebut.


5. Waktu-Waktu Tertentu


Ada waktu-waktu tertentu yang harus diingat oleh investor dan trader instrumen apapun baik yang ingin mendapatkan keuntungan tinggi dari volatilitas harga atau justru menghindarinya. Waktu-waktu tersebut antara lain:

  1. Jam pembukaan pasar. Biasanya,harga saham maupun instrumen lain akan relatif lebih volatile ketika pagi hari saat Bursa Efek indonesia baru saja dibuka. Hal ini khususnya jika sebelum hari tersebut adalah hari libur entah itu Sabtu dan Minggu maupun hari libur nasional.

  2. Hari pertama sebuah saham melantai di bursa. Kamu ingin membeli saham yang baru IPO? Usahakan kamu tidak membeli saham tersebut saat hari H begitu saham tersebut masuk bursa. Hal ini karena umumnya harga saham yang baru masuk bursa akan memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Maka dari itu, tidak heran jika BEI menerapkan nilai ARA dan ARB yang berbeda untuk perusahaan yang baru IPO.


Manfaat Mengetahui Volatilitas Harga Saham

Manfaat Mengetahui Volatilitas pada Harga Saham

Salah satu manfaat mengetahui volatilitas saham adalah sebagai alat mengukur risiko.


Misalnya, nilai volatilitas harga suatu saham adalah 500. Maka, jika saat ini harga saham tersebut adalah Rp 1.900 per lembar, maka kurang lebih harga saham tersebut juga bisa turun dari Rp 1.900 per lembar menjadi Rp 1.400 per lembar. Dengan demikian, kamu bisa menentukan kapan harus cut loss.


Maka dari itu, salah satu ciri saham gorengan adalah tingkat volatilitasnya tinggi. Misalnya nilai volatilitasnya 10.000. Ini artinya, harga saham tersebut bisa naik dari Rp 1.000 per lembar menjadi Rp 11.000 per lembar dalam jangka pendek dan juga bisa turun dari Rp 12.000 menjadi Rp 2.000 dalam periode yang sama.



Cara Menghitung Volatilitas


Salah satu cara menghitung volatilitas adalah dengan standar deviasi.


Berikut adalah gambar tabel rumus cara menghitung volatilitas dengan standar deviasi:

Rumus Standar Deviasi untuk Menghitung Volatilitas

Oleh karena itu, langkah-langkah cara untuk menghitung volatilitas adalah:

  1. Tentukan periode waktu.

  2. Tentukan jenis harga yang akan kamu ambil saat harga penutupan.

  3. Hitung rata-rata harga selama periode yang kamu ambil.

  4. Kurangi setiap harga yang kamu peroleh di langkah no.2 dengan nilai rata-rata harga.

  5. Jumlahkan semua hasil pengurangan di langkah no.4.

  6. Bagi hasil penjumlahan di langkah no. 5 dengan jumlah data.

  7. Cari akar kuadratnya.

Selain dengan cara manual seperti di atas, kamu juga bisa menghitung volatilitas dengan menggunakan rumus STDEV di Microsoft Excel.



Comments


Subscribe Alpha Edu 

Dapatkan notifikasi update Alpha Edu di email kamu.

Terima kasih sudah join Alpha Edu!

bottom of page