top of page

ROA (Return on Asset) adalah: Simak Apa itu ROA dan Rumus ROA


ROA (Return on Asset) adalah

Agar mendapatkan keuntungan investasi, khususnya investasi jangka panjang, kamu tidak boleh memilih saham secara sembarangan.

Ada banyak faktor yang harus kamu pertimbangkan, salah satunya adalah kemampuan sebuah perusahaan dalam menggunakan semua sumber daya yang dimilikinya untuk mendapatkan keuntungan.


Kemampuan perusahaan dalam melakukan hal ini dihitung dalam sebuah matriks keuangan bernama return on asset atau biasa disingkat ROA.


Pelajari apa itu ROA, rumus ROA dan apa maknanya dalam keuangan perusahaan dengan membaca artikel berikut ini.


Apa Itu ROA (Return on Asset)?

Apa Itu ROA (Return on Asset)?

ROA adalah singkatan dari return on asset, sebuah indikator keuangan yang membandingkan antara laba sebuah perusahan terhadap jumlah asetnya.

Indikator ini menggambarkan seberapa efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya, sehingga aset tersebut dapat menghasilkan pendapatan yang diharapkan.


Untuk memahami ROA, kamu harus tahu apa itu aset.


Aset atau aktiva adalah sumber daya yang bisa digunakan oleh perusahaan dalam operasionalnya untuk mendapatkan keuntungan di masa depan.


Aset bisa dibagi menjadi aset lancar atau mudah diuangkan, seperti uang tunai, piutang, perlengkapan dan aset tidak lancar atau aset tetap yang membutuhkan waktu untuk diuangkan, seperti gedung atau tanah.


Sederhananya, semakin tinggi nilai ROA berarti semakin tinggi juga kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan tanah, gedung dan aset-aset lain yang mereka miliki.

Contoh ROA adalah sebagai berikut.


Misalnya, kita ingin membeli sebuah coffee shop.


Ada 2 coffee shop yang bisa kita beli.


Coffee shop A punya aset Rp100jt dan laba bersih perusahaan A setiap tahunnya Rp20jt.


Coffee shop B punya aset Rp100jt juga, namun laba bersih setiap tahunnya Rp10jt.


Pastinya kita akan membeli coffee shop A.


Sama seperti indikator keuangan lainnya, ROA yang ideal untuk sebuah industri bisa jadi berbeda dengan industri lainnya.


Sebab masing-masing industri memiliki karakteristik keuangannya masing-masing.


Oleh sebab itu, pastikan kamu membandingkan nilai ROA perusahaan yang kamu incar dengan nilai ROA perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama ya.



Rumus ROA

Rumus ROA

Return on asset menjadi salah satu indikator keuangan yang paling banyak digunakan bukan tanpa alasan.


Alasannya adalah karena rumus indikator keuangan ini cukup sederhana.


Rumus ROA adalah:


ROA = (Laba Bersih Setelah Pajak / Total Aset) X 100%


Karena nilai total aset ini bisa berubah dalam satu periode akuntansi, kamu juga bisa menggunakan rumus:


ROA = (Laba Bersih Setelah Pajak / Rata-Rata nilai Aset sebuah perusahaan dalam satu periode akuntansi) X 100%


Informasi mengenai laba bersih setelah pajak bisa kamu peroleh di laporan laba rugi perusahaan, sementara informasi mengenai total aset bisa diperoleh di laporan posisi keuangan konsolidasian.



Contoh Menghitung ROA


Contoh 1:


Sebuah perusahaan di bidang tekstil memiliki total aset sebesar Rp 1.500.000.000 (satu koma lima miliar rupiah) dan total laba bersih sebesar Rp 125.000.000 (seratus dua puluh lima juta rupiah).


Maka, nilai ROA untuk perusahaan ini adalah sebesar:


ROA = (125,000,000 / 1,500,000,000 ) X 100% = 8,3%.


Contoh 2:


Perusahaan A, B dan C adalah dua perusahaan yang bergerak di bidang jasa travel.


Kedua perusahaan ini pada tahun 2007 memiliki data sebagai berikut:

 Gambar Tabel Contoh Menghitung ROA Return on Asset

Meskipun memiliki laba bersih, dan rata-rata aset yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan A dan B, nilai ROA perusahaan C relatif lebih kecil.


Hal ini karena nilai laba bersih perusahaan tersebut dibandingkan dengan nilai rata-rata asetnya lebih kecil dibandingkan dengan dua perusahaan lainnya. Ini artinya, perusahaan C masih harus memperbaiki efisiensi mereka dalam menggunakan aset.


Contoh 3:


Perusahaan D adalah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. Selama tahun 2016-2020, perusahaan ini memiliki data keuangan sebagai berikut:

 Gambar Tabel Contoh Menghitung ROA Return on Asset

Dari data tersebut diatas terlihat bahwasanya pendapatan 5 tahunan perusahaan D mengalami penurunan di tahun 2019 dan 2020.


Meskipun demikian, pada tahun 2020, nilai ROA perusahaan tersebut justru meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.


Hal ini karena adanya perubahan persentase pajak dari yang awalnya 5% menjadi 0,25% dari pendapatan bersih dan karena meskipun pendapatannya menurun, aset perusahaan D tetap mengalami peningkatan rata-rata.



Manfaat dan Kekurangan Menggunakan ROA


Manfaat utama ROA untuk investor adalah untuk menganalisis efisiensi kinerja perusahaan yang mereka inginkan dalam menggunakan asetnya.


Semakin tinggi nilai ROA, maka dapat diartikan kalau secara garis besar perusahaan tersebut dapat memanfaatkan asetnya dengan baik.


Namun, ROA juga memiliki beberapa kekurangan.


Kekurangan yang pertama adalah, indikator ini belum memasukkan faktor inflasi.


Bisa jadi nilai ROA sebuah perusahaan naik dari waktu ke waktu karena adanya kenaikan harga, sehingga labanya pun meningkat.


Akibatnya, data penghitungan yang dihasilkan menggunakan ROA ini jadi bias.


Kekurangan yang kedua adalah ROA menghitung total aset terlepas dari sumber yang digunakan untuk memperoleh aset tersebut.


Secara garis besar, sumber yang digunakan untuk memperoleh aset ada dua, yaitu modal investor dan pemilik alias ekuitas dan pinjaman atau utang (liabilitas).


Keuangan sebuah perusahaan tidak dapat dikatakan sehat apabila nilai return on asset (ROA) nya tinggi, tetapi sebagian besar dari aset perusahaan tersebut dibiayai dari utang (liabilitas), khususnya utang jangka pendek yang jatuh tempo kurang dari satu tahun.


Sebab, apabila utang ini jatuh tempo dan perusahaan tidak bisa membayarnya, maka perusahaan tersebut tetap akan dinyatakan bangkrut.


Kekurangan ROA lainnya adalah tidak membedakan diantara aktivitas operasional dan non-operasional.


ROA mencakup semua aset, termasuk aset non-operasional seperti bunga tabungan di bank.


Faktor non-operasional dapat mendistorsi ROA, menjadikannya kurang berarti sebagai ukuran kinerja operasi.


Misalnya, perusahaan dengan ROA tinggi karena faktor non-operasi padahal bisnis intinya tidak menguntungkan.


Oleh sebab itu, ROA tidak bisa digunakan sendiri.


Harus ada indikator keuangan lain yang akan membuat hasil analisis kamu menjadi lebih solid.




Subscribe Alpha Edu 

Dapatkan notifikasi update Alpha Edu di email kamu.

Terima kasih sudah join Alpha Edu!

bottom of page