top of page

Manfaat Diversifikasi Portofolio Saham?


Ilustrasi Diversifikasi Portofolio Saham

Pernahkah Anda mendengar ungkapan “Janganlah menaruh semua telur dalam satu keranjang”? Ungkapan ini sering digunakan dalam dunia investasi untuk mendorong investor melakukan diversifikasi portofolio. Ketahui apa itu diversifikasi portofolio dan manfaatnya berikut ini:


Pengertian Diversifikasi Portofolio

Diversifikasi portofolio adalah strategi pengaturan risiko investasi yang dilakukan dengan cara membeli lebih dari satu instrumen investasi yang berasal dari sektor atau kelas aset yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menghindari risiko yang diakibatkan oleh penurunan nilai dari satu aset investasi dalam portofolio tersebut.


Ungkapan “Janganlah menaruh semua telur dalam satu keranjang” di atas berarti sebaiknya menaruh telur di beberapa keranjang yang berbeda. Tujuannya adalah jika satu keranjang pecah, Anda masih memiliki telur-telur yang ada di keranjang lain.


Begitu juga dengan diversifikasi portofolio investasi, disarankan untuk membeli dua instrumen investasi yang berbeda supaya ketika satu instrumen investasi mengalami penurunan nilai, Anda masih memiliki instrumen investasi lainnya.


Pada konteks diversifikasi portofolio saham misalnya, Anda bisa memilih saham dari 2 atau 3 sektor yang berbeda, sehingga ketika satu sektor mengalami penurunan nilai, portofolio Anda masih bisa bernilai positif (untung) akibat kenaikan harga saham dari sektor lain.


Manfaat Diversifikasi Portofolio


Ilustrasi Manfaat Diversifikasi Portofolio Saham

1. Mengurangi risiko

Manfaat utama dari diversifikasi portofolio adalah mengurangi risiko investasi. Misalnya, Anda memiliki 2 saham dari sektor yang berbeda, yaitu saham A dan saham B. Suatu ketika, harga saham A turun hingga 10%, sementara harga saham B naik 5%. Alih-alih rugi hingga 10%, kerugian nilai portofolio Anda bisa hanya 7% atau 5% tergantung besaran proporsi investasi Anda pada masing-masing saham dan harga saham tersebut.


2. Portofolio bisa sesuai dengan tujuan keuangan

Setiap tujuan keuangan disarankan untuk dipenuhi menggunakan instrumen investasi yang berbeda. Oleh karena itu, investor disarankan untuk berinvestasi pada beberapa aset yang berbeda sekaligus.


Contohnya, untuk tujuan keuangan dalam jangka panjang (10 tahun lebih), Anda bisa berinvestasi pada growth stock yang diperkirakan akan naik cukup tajam dalam periode tersebut. Adapun untuk kebutuhan jangka pendek dan menengah, bisa berinvestasi pada saham blue chip yang dikenal relatif lebih stabil.


3. Memperbesar peluang keuntungan

Dengan berinvestasi pada saham dari sektor yang berbeda, juga bisa memperbesar peluang keuntungan. Hal ini karena setiap sektor memiliki sentimen negatif dan positif-nya masing-masing.


Misalnya, berinvestasi pada sektor pertambangan dan sektor FMCG (fast moving consumer goods). Pada tahun 2022 lalu bisa jadi saham sektor tambang mengalami kenaikan tajam, sementara FMCG biasa-biasa saja. Lalu sebaliknya, pada tahun 2024 ini sektor tambang menurun sementara sektor FMCG naik. Dengan memiliki portofolio saham yang terdiversifikasi, Anda bisa mendapatkan keuntungan baik di tahun 2022 maupun di tahun 2024 sekaligus.


Strategi Diversifikasi Portofolio Saham


Ilustrasi Strategi Diversifikasi Saham

1. Nilai kapitalisasi pasar (market cap)

Market capitalization adalah hasil kali antara harga saham sebuah perusahaan dengan jumlah saham perusahaan tersebut yang beredar di bursa. Secara garis besar, terdapat dua jenis perusahaan berdasarkan nilai kapitalisasi pasarnya, yaitu perusahaan dengan market cap besar dan perusahaan dengan nilai market cap kecil.


Untuk daftar perusahaan dengan nilai market cap besar di bursa bisa Anda lihat di indeks-indeks terkemuka seperti IDX30 atau LQ45, sementara untuk perusahaan dengan nilai market cap kecil di Indonesia bisa dicek di indeks SMC Composite dan SMC liquid.


2. Corporate Lifecycle Stages

Membeli saham berdasarkan tahap pertumbuhan emiten penerbit saham tersebut (corporate lifecycle stages). Berdasarkan tahap pertumbuhannya, saham-saham di Bursa Efek Indonesia dapat terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu growth stock dan value stock.


Growth stock adalah saham-saham yang diperkirakan dapat tumbuh dengan tingkat pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan rata-rata industrinya. Misalnya, saham A diperkirakan bisa naik sebesar 30% dalam 10 tahun mendatang, sementara saham lain di sektor yang sama hanya bisa naik 10%. Meskipun menawarkan potensi keuntungan yang tinggi, growth stock biasanya juga memiliki risiko investasi yang tinggi, sebab perusahaan yang masuk kategori ini cenderung belum mapan.


Adapun value stock adalah saham-saham dari perusahaan bagus namun dijual dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga seharusnya. Untuk menentukan harga dan nilai seharusnya ini, Anda harus melakukan analisis fundamental terlebih dahulu.


Misalnya, berdasarkan dari analisis fundamental yang Anda lakukan, seharusnya harga saham A berada di level Rp3.800 per lembar, sementara saat ini saham tersebut masih diperdagangkan dengan harga Rp1.500 per lembar. Maka boleh dikatakan kalau saham A termasuk value stock.


3. Letak geografis

Anda memiliki modal investasi yang lumayan? Maka tidak ada salahnya Anda mencoba diversifikasi portofolio saham dengan membeli saham Indonesia sekaligus saham luar negeri. Sebab, risiko makro ekonomi yang menghantam Indonesia belum tentu akan menghantam negara lain juga, begitu pula sebaliknya.


Khusus untuk saham-saham Amerika Serikat, saat ini sudah banyak cara untuk membeli saham dari negara ini. Misalnya, dengan membeli reksadana global Anda bisa membeli saham perusahaan terkemuka dari AS seperti Apple, MSFT atau TSLA. Namun berinvestasi di saham luar negeri ini juga memiliki risiko tersendiri, yaitu risiko perubahan nilai tukar mata uang rupiah dengan mata uang negara tersebut.


Tips Diversifikasi Portofolio Saham


Ilustrasi Tips Diversifikasi Portofolio Saham

1. Batasi hanya 2 atau 5 saham saja

Untuk melakukan diversifikasi, pastikan hanya membeli 2 atau 5 saham yang berbeda saja. Tujuannya adalah supaya bisa lebih fokus dalam melakukan analisis dan follow up kinerja saham-saham tersebut. Sebab kalau memilih terlalu banyak saham, bukan tidak mungkin akan kehilangan fokus pada saat analisis.


2. Beli saham yang sudah Anda analisis

Sebelum membeli sebuah saham, pastikan menganalisisnya dulu supaya bisa mengerti risiko dan peluang apa saja yang bisa diperoleh dengan membeli saham tersebut. Hal ini penting, khususnya jika ingin melakukan diversifikasi dengan cara membeli saham growth stock dan value stock.


3. Tentukan proporsi masing-masing saham terhadap portofolio

Investor disarankan untuk menentukan proporsi masing-masing saham terhadap portofolio, membatasi proporsi masing-masing saham maksimal sebesar 25% dan minimal 5% dari total portofolio secara keseluruhan. Tujuannya adalah supaya tidak tergantung pada satu saham tertentu dan apabila nilai satu saham naik, nilai kenaikan tersebut tetap dapat mempengaruhi total investasi secara keseluruhan.


Contoh diversifikasi portofolio dalam hal ini misalnya, Anda memiliki portofolio saham dengan nilai total sebesar Rp 10.300.000 dalam 4 saham. Saham A memiliki proporsi 23% yaitu sebesar Rp 2.369.000, saham B 21% dengan nilai Rp 2.163.000, saham C dan D masing-masing dengan proporsi 25% dan nilai Rp 2.575.000.


Nah, itu tadi pembahasan mengenai manfaat diversifikasi portofolio saham. Jangan lupa gunakan aplikasi Alpha Investasi untuk membeli saham dari berbagai sektor di Bursa Efek Indonesia. Aplikasi Alpha Investasi, membuat investasi semakin mudah dan murah!

Subscribe Alpha Edu 

Dapatkan notifikasi update Alpha Edu di email kamu.

Terima kasih sudah join Alpha Edu!

bottom of page