top of page

Mengenal Apa Itu Deflasi dan Perbedaannya dengan Inflasi


Apa Itu Deflasi dan Perbedaan deflasi dan inflasi

Pada pandemi Covid-19 lalu, Indonesia mengalami fenomena yang cukup langka, yaitu deflasi selama 3 bulan berturut-turut. Ketika itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pergerakan harga barang dan jasa di 90 kota di seluruh Indonesia turun hingga minus sebesar -0,10 di bulan Juli 2020, 0,05 di bulan Agustus 2020 dan 0,05 di bulan September tahun yang sama.

Hal ini terbilang langka sebab menurut Liputan 6 Indonesia pernah mengalami deflasi selama beberapa bulan berturut-turut ketika Indonesia baru pulih dari krisis moneter di tahun 1999. Meskipun demikian, deflasi merupakan salah satu indikator moneter penting yang sebaiknya dipelajari juga oleh investor.


Yuk simak apa itu deflasi, penyebab, dampak dan cara mengatasinya di bawah ini!


Apa Itu Deflasi?

Deflasi adalah

Secara bahasa, menurut kamus Merriam Webster arti deflasi adalah penurunan jumlah supply mata uang yang kemudian menyebabkan penurunan harga barang dan jasa secara umum. Sederhananya, deflasi adalah penurunan harga barang dan jasa secara terus menerus.


Deflasi berbeda dengan inflasi juga berbeda dengan disinflasi. Perbedaan deflasi dan inflasi adalah deflasi merupakan penurunan harga sampai minus, sementara inflasi merupakan kenaikan harga secara terus menerus. Di sisi lain, disinflasi adalah penurunan tingkat inflasi dari satu periode ke periode yang lain.


Misalnya, katakanlah terdapat 3 periode yaitu 2020, 2021, 2023. Inflasi terjadi ketika harga barang yang sebelumnya dijual sebesar Rp10.000 di tahun 2020 naik 10% jadi Rp11.000 pada tahun 2021.


Disinflasi terjadi ketika pada periode tahun 2022 ke 2023 harga barang yang sama tidak lagi naik 10%, tapi naik “hanya” 8% menjadi Rp11.880. Adapun contoh deflasi terjadi ketika barang yang sebelumnya dijual dengan Rp10.000 di tahun 2020 turun 10% jadi dijual dengan harga Rp9.000 di tahun 2021.



Penyebab Deflasi

Penyebab Deflasi

1. Penurunan Jumlah Supply Mata Uang


Supply mata uang dikatakan naik apabila jumlah uang yang beredar di masyarakat lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh rendahnya suku bunga perbankan, sehingga masyarakat percaya diri mengambil kredit dari bank dan membelanjakan uang yang mereka miliki.


Sebaliknya, supply mata uang dikatakan turun kalau jumlah uang yang beredar di masyarakat lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Hal ini karena bank menaikkan suku bunga, sehingga masyarakat mengurangi jumlah belanja dan kreditnya dan mulai menabung di bank. Secara umum, kontrol terhadap jumlah mata uang yang beredar ini berada di tangan bank sentral alias Bank Indonesia.


Bagaimana penurunan supply uang bisa membuat deflasi? Sederhananya, jika masyarakat tidak belanja dan malah menyimpan uangnya di bank, maka permintaan akan barang dan jasa menurun. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, kalau jumlah supply lebih banyak dibandingkan dengan jumlah demand, maka harga barang tersebut akan turun.


2. Penurunan Permintaan Agregat


Deflasi seringkali terjadi dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, pada saat pandemi Covid-19 kemarin misalnya. Ketika dalam kondisi tidak pasti seperti itu, orang tentu tidak akan membelanjakan uangnya dan memilih untuk menyimpannya di bank demi berjaga-jaga. Apabila hal ini terjadi secara serentak oleh sejumlah besar masyarakat, maka akan terjadi penurunan permintaan agregat dan deflasi.


Tidak hanya karena banyak orang memilih untuk menabung, pandemi beberapa tahun lalu juga membuat masyarakat tidak bisa pergi kemana-mana. Akibatnya, permintaan agregat terhadap kendaraan umum, dan banyak kebutuhan lain mengalami penurunan dan terjadilah deflasi sektoral.


3. Peningkatan Supply


Seperti yang telah disebutkan di atas, jika supply lebih besar dibandingkan demand, maka harga barang atau jasa tersebut akan menurun. Salah satu penyebab peningkatan supply yang relatif tidak terkendali adalah teknologi.


Misalnya, dulu dengan tanpa mesin di sebuah perusahaan bisa membuat 50 gulungan kertas setiap hari, kini seiring dengan perkembangan mesin terbaru, hanya dalam satu hari bisa memproduksi 300 gulungan kertas. Apabila peningkatan produksi kertas ini tidak diikuti dengan peningkatan permintaannya, maka harga kertas di pasaran niscaya akan jatuh (deflasi).



Dampak Deflasi

Dampak Deflasi

1. Daya Beli Masyarakat Menguat


Seiring dengan penurunan harga barang dan jasa, maka daya beli masyarakat menguat. Pada contoh di atas misalnya, pada tahun 2021 kamu bisa membeli barang yang sebelumnya seharga Rp10.000 hanya dengan Rp9.000 saja. Namun demikian, penguatan daya beli masyarakat ini tentu akan percuma jika masyarakat itu sendiri lebih memilih untuk menabung karena kondisi ekonomi yang tidak pasti.


2. Penurunan Biaya Belanja Modal (Cost of Capital)


Tidak hanya barang konsumsi saja yang akan menurun harganya dalam deflasi, tetapi juga barang dan jasa yang dibutuhkan untuk produksi. Akibat penurunan ini, biaya belanja modal entah itu untuk merekrut karyawan baru atau membeli bahan baku juga akan turun. Akan tetapi sekali lagi, jika deflasi ini juga terjadi karena ekonomi yang tidak pasti, maka perusahaan tentu tidak akan melakukan belanja modal lagi dan malah akan melakukan serangkaian pemutusan hubungan kerja (PHK).


3. Penurunan Pertumbuhan Ekonomi


Ketika masyarakat rumah tangga dan perusahaan enggan berbelanja karena deflasi, maka deflasi akan menurunkan output sebuah negara dan menghambat pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Pada tahun 2020 lalu misalnya, dikutip dari IDX Channel, pandemi Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia turun hingga -5,32% secara YoY. Padahal, tahun sebelumnya Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI mencapai 5,1% sampai dengan 5,5%.


4. Peningkatan Jumlah Pengangguran


Ketika deflasi tidak hanya terjadi pada barang dan jasa supply produksi, tetapi juga barang dan jasa hasil produksi, maka tidak menutup kemungkinan perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal. Akibatnya, jumlah pengangguran juga meningkat.



Cara Mengatasi Deflasi

Cara Mengatasi Deflasi

Meskipun tampak buruk, namun pada dasarnya deflasi adalah fenomena yang wajar dalam sebuah ekonomi. Tapi sama halnya dengan inflasi, deflasi juga harus tetap dikontrol.


Cara untuk mengatasi deflasi adalah:


1. Meningkatkan Jumlah Uang yang Beredar


Sebagaimana telah disebutkan di atas, peningkatan jumlah uang yang beredar dilakukan dengan cara menurunkan suku bunga kredit dan simpanan. Bagaimana cara Bank Indonesia melakukan hal ini? Pertama, suku bunga acuan diturunkan, supaya suku bunga simpanan dan kredit bank-bank umum juga turun.


Kedua, Bank Indonesia akan melakukan pembelian kembali surat berharga miliknya yang sebelumnya dijual ke bank umum. Tujuannya adalah supaya bank-bank umum tersebut memiliki cadangan uang tunai yang cukup untuk memberikan pinjaman kepada nasabahnya. Ketiga, yaitu dengan cara-cara lain yang mendukung 2 kebijakan di atas.


2. Kebijakan Fiskal


Pemberian kredit yang mudah saja tidak akan cukup mengatasi deflasi jika deflasi tersebut terjadi dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti dan masyarakat pesimis. Kebijakan moneter di atas harus didukung dengan kebijakan fiskal yang memadai, misalnya menyelenggarakan proyek infrastruktur supaya banyak pengangguran bisa mulai bekerja lagi atau dengan memotong pajak individu maupun badan usaha, sehingga lebih banyak uang yang bisa digunakan untuk belanja, dan lain sebagainya.


Subscribe Alpha Edu 

Dapatkan notifikasi update Alpha Edu di email kamu.

Terima kasih sudah join Alpha Edu!

bottom of page